BYE MEDAN



    Siapa yang gatau Jakarta, kota yang dipenuhi banyak orang-orang dengan sejuta kesibukan mereka masing-masing. Dimana mraknya kejahatan dapat terjadi dimana-mana. Jakarta yang sering disebut dengan kota metropolitan adalah kota yang sangat bersejarah.
    Kali ini gue akan menceritakan pengalam pertama kali datang kejakarta.( Sombong Bangetya). Sekitar bulan 7 2015 gue memutuskan untuk berkuliah dijakarta, dengan berat hati meninggalkan kedua orang tua yang begitu gue sayangi untuk waktu yang cukup lama, 4 th. ( ya pasti dalam setahun bisa balik paling tidak sekali, bukan sehari).
    04-08-15 gue akan flight ke kota metropolitan. ( itu bukan tanggal jadian, oke ini mulai ngaur). Satu sisi gue merasa senang bisa pergi ke kota orang dengan alasan ingin mandiri dan membanggangkan kedua orang tua, di sisi lain gue sedih karena banyak hal yang gue tinggalin, contohnya mantan.(lohh kok ngaur lagi, ayoo seriusss).
   Gue aktif dalam satu pelayanan di sebuah gereja. memang gue suka bermusik, dan bermusik sudah dari kecil, tapi sewaktu kecil hanya bisa bermain gitar. itu juga hanya gesekin tangan ke senarnya sampe putus. ( kaya Cinta Gue banyakan putus.)
    KNO Airpot bandara yang baru saja diresmikan di medan, dan gue berangkat melalui bandara ini. check ticket, boarding pass, dan tiba saaatnya untuk masuk ruang tunggu, dan disinilah gue sadar bahwa gue akan meninggalkan Bapak, Mama, dan Kakak.
 " Maaaa, aku pergi yaaaa, doain aku ya maaa supaya sukses. nanti kalau aku sukses kita sekeluarga makan bareng ya maaaa." gue berkata kepada mama sambil memeluk dan meneteskan airmata, dan mama pun sontak memeluk dan menangis mendengar anak yang selama ini ia ketahui adalah seorang anak manja dan sekarang ia sadar bahwa anak manjanya akan pergi ke kota orang untuk mandiri.
   Setelah gue meminta restu pergi ke orang tua gue. gue juga mengatakan ke kakak gue agar dia selalu menjaga kedua orang tua kami.
   Dan gue mulai menuruni escalator untuk masuk ke ruang tunggu keberangkatan. Masih basah mataKu karena tangisan tadi semakin basah saat melihat lambaian tangan dari 3 orang yang aku sayangi, sepertinya waktu akan memisahkan kami sangat lama, sambil terus berjalan aku akhirnya masuk di ruang tunggu.
  Tepat pukul 12.00 aku memasuki pesawat dan ketika sedang berjalan aku melihat kembali lambaian tangan dari Bapak, Mama, dan Kakaku, dan kali ini aku membalas lambaian tangan mereka, dan dalam hati aku mengatakan. Berkati perjalananku TUHAN, dan lindungi orang-orang yang aku tinggalkan sekarang, dan pada saat itu lah terakhir aku melihat mereka meneteskan airmata karena anak manja mereka sudah pergi untuk Mandiri.               




Previous
Next Post »